Tampilkan postingan dengan label Sejarah Peradaban Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Peradaban Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Maret 2011

Konsepsi


KONSEPSI ISLAM DALAM PERADABAN SOSIAL MASYARAKAT MADINAH

jauh empat belas abad yang lalu, telah berdiri sebuah masyarakat yang mampu melakukan lompatan besar peradaban dengan berdirinya sebuah komunitas yang bernama Masyarakat Madinah (Umari, 1999: 69). Transformasi radikal dalam kehidupan individual dan sosial mampu merombak secara total nilai, simbol, dan struktur masyarakat yang telah berakar kuat dengan membentuk sebuah tatanan baru yang berlandaskan pada persamaan dan persaudaraan. Bentuk masyarakat Madinah inilah, yang kemudian ditransliterasikan menjadi ‘Masyarakat Madani’, merupakan tipikal ideal mengenai kosepsi sebuah masyarakat Islam.

Eksistensi masyarakat Madinah tidaklah serta merta terbentuk begitu saja, melainkan melalui sebuah proses panjang. Namun, lompatan besar yang berhasil dilakukan oleh masyarakat Madinah pada masa itu adalah sebuah proses panjang dari kemampuan mereka mengaplikasikan nilai dan simbol Islam secara bersamaan. Nilai Islam ini bersumber dari al-Qur’an dan perintah Nabi sebagai penjelasan nilai-nilai tersebut. Nilai-nilai Islam sebagai dasar terbentuknya masyarakat merupakan buah sosialisasi nilai yang dilakukan Nabi dan sahabat selama tiga belas tahun di Makkah. Dengan demikian, saat proklamasi masyarakat Madinah, setiap individu tidak lagi mengalami kebingungan dengan apa dan bagaimana seharusnya mereka bertindak.

Simbol Islam menjadi penting dalam proses pembangunan masyarakat Madinah yang membedakan sebuah masyarakat baru ini dengan masyarakat jahiliyah yang ada di sekitarnya. Simbol Islam merupakan bentuk aktualisasi nilai-nilai Islam ke dalam konteks lingkungan sosial pada masa tersebut. Karenanya, keberadaan simbol-simbol Islam menjadi lekat dengan kewajiban individu muslim menjalankan syi’ar Islam.
Sehingga, gaung Islam semakin menggema di dunia. Rousseau dalam Social Contract-nya juga tidak lepas dari pengaruh Islam. Bahkan dia secara jelas menyebut: “Muhammad memiliki kekuatan besar yang mampu menjaga persatuan dalam sistem politik masyarakatnya, dan selama pemerintahannya mampu melahirkan kekhalifahan yang dapat mewarisi kesukesesannya, pemerintah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat, hal inilah yang membuat masyarakat muslim semakin berkembang.” (Azizi, 2000: 94). Piagam Madinah merupakan sebuah kontrak sosial yang pertama di dunia ketika setiap elemen masyarakat memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam proses pembentukannya sebagai elemen penting dalam politik masyarakat.

Permasalahan yang terjadi saat ini adalah ketidakmampuan kaum muslimin menjalankan nilai dan simbol Islam secara bersamaan yang saling berkaitan erat. Individu dan masyarakat muslim seakan tertarik pada dua kutub ekstrim antara nilai atau simbol keagamaan yang terbawa oleh peradaban di luar Islam. Pada satu sisi, nilai keagamaan, mendominasi masyarakat dengan cengraman yang sangat kuat. Akibatnya, setiap individu muslim dalam masyarakat mengkultuskan nilai-nilai Islam sebagai sesuatu yang sangat sakral. Kondisi tersebut menjadikan masyarakat jauh dari realitas sosialnya yang berdampak pada terkucilnya Islam pada sudut-sudut masjid atau ‘goa-goa yang jauh dari peradaban’. Mereka tidak mampu menciptakan sebuah produk nilai Islam yang terintegrasi dengan konteks sosial masyarakat.

Karakteristik Masyarakat Madani
seakan-akan Rasulullah ingin memberikan titik tekan bahwa peradaban Islam dalam masyarakat madani, semestinya memiliki karakteristik unik. Sebuah karakteristik yang membedakannya dengan peradaban lain, dan karakteristik itu adalah karakteristik masyarakat Qur’ani. Yakni, masyarakat yang menanamkan nilai-nilai ajaran al-Qur’an di dalam jiwanya, dan menegakkan konsep-konsep al-Qur’an tersebut di dalam kehidupan masyarakatnya. Hingga, dalam sejarah, tercatat bahwa masyarakat Madinah merupakan masyarakat yang sama sekali baru dan sangat berbeda dengan tradisi kejahiliyahan yang berkembang dalam lingkungannya. Hal ini dikarenakan, masyarakat tersebut mendasarkan dirinya pada ajaran al-Qur’an, bukan sekedar mensintesis konsep peradaban jahiliyah yang ada.

Walaupun, terlihat sangat berupaya menjaga nilai-nilai dasarnya (al-Qur’an) dengan sangat steril dari intervensi nilai kebudayaan jahiliyah yang ada di sekitarnya, masyarakat Madinah tersebut sama sekali tidak menolak teknik pembangunan peradaban yang sudah ada di masa tersebut. Di sini, dalam masyarakat Islam, ada ranah yang disebut ushul, yakni konsep tauhid yang tidak bisa ditawar berikut tata cara ibadahnya. Dan, ada ranah yang disebut furu’, yakni ruang di mana semua bentuk ijtihad diperkenankan, dan ini biasanya terkait dengan bidang-bidang mu’amalat.

Sterilisasi masyarakat yang dilakukan Rasulullah pada saat membangun masyarakat Madinah ditekankan pada konsep tauhid dan tata cara ibadah. Di sini, tidak ada ruang untuk mencipta definisi-definisi tentang tauhid dan konsep ibadah. Karena, semua itu telah dijabarkan secara jelas dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi. Ruang inilah yang membedakan komunitas keimanan dengan golongan kejahiliyahan. Bagi masyarakat Islam, ikatan aqidah inilah yang menjadi ikatan mereka dalam membentuk masyarakat yang Islami. Tauhid yang satu, dan konsep ibadah yang seragam. Tidak ada kreasi dalam hal ini. Keseragaman inilah yang menjadi atribut masyarakat Islam itu.

Sementara, dalam Masyarakat Madinah, Rasulullah sebagai pemimpin masyarakat memberi ruang bagi publik untuk menciptakan beraneka ijtihad dalam berbagai bentuk mu’amalah.
Islam sebagai fondasi dasar masyarakat, tidak memberikan batasan yang rigid dalam hal ini. Tapi, membuka peluang kreasi seluas mungkin, namun semuanya itu masih dalam koridor-koridor syari’at. Jika dalam ruang aqidah yang berlaku adalah ayat kauliyah. Maka, dalam ranah mu’amalah ini berlaku ayat-ayat kauniyah, sunnatullah yang berlaku di alam semesta. Di sini, setiap elemen masyarakat Islam, dituntut untuk berfikir agar dapat memberdayakan potensi yang ada di lingkungannya untuk kemaslahatan manusia, menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Daftar Pustaka
Abdullah, Taufik (1987) Islam dan Masyarakat: Pantulan Sejarah Indonesia. Jakarta: LP3ES.
Al-Banna, Hasan (2006) Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Jilid 1 dan 2.
Solo: Era Intermedia.
Allan, Kenneth (1951) Exploration in Classical Sociological Theor. London: Sage Publication Ltd.
Azizi, A Qodri Abdillah (2000) Masyarakat Madani antara Cita dan Fakta:. Dalam Ismail SM, Pendidikan Islam, Demokratisasi dan Masyarakat Madani. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Natsir, Mohammad (2008) Capita Selecta Muhammad Natsir, Jilid 2. Jakarta: Penerbit Abadi.
Hussain, bin Muhammad (2005) Menuju Jama’atul Muslimin. Jakarta: Rabbani Press.
Ritzer, George (2003) Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prenada Media.
Quthb, Sayyid (2001) Petunjuk Jalan. Depok: Gema Insani Press.
Ibnu Khaldun (2000) Muqaddimah. Cetakan Keempat. Jakarta: Pustaka Firdaus.
Umari, Akram Dhiyauddin (1999) Masyarakat Madani. Jakarta: Gema Insani Press.

Jumat, 11 Juni 2010

syi'ah

PENGERTIAN SEJARAH, TOKOH, AJARAN, DAN SEKTE SYI’AH
By Moh. Subhan
I. Pendahuluan
Sejarah Islam mencatat bahwa hingga saat ini terdapat dua macam aliran besar dalam Islam. Keduanya adalah Ahlussunnah (Sunni) dan Syi’ah. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa dua aliran besar teologi ini kerap kali terlibat konflik kekerasan satu sama lain, sebagaimana yang kini bisa kita saksikan di negara-negara seperti Irak dan Lebanon.
Terlepas dari hubungan antara keduanya yang kerap kali tidak harmonis, Syi’ah sebagai sebuah mazhab teologi menarik untuk dibahas. Diskursus mengenai Syi’ah telah banyak dituangkan dalam berbagai kesempatan dan sarana. Tak terkecuali dalam makalah kali ini. Dalam makalah ini kami akan membahas pengertian, sejarah, tokoh, ajaran, dan sekte Syi’ah. Semoga karya sederhana ini dapat memberikan gambaran yang utuh, obyektif, dan valid mengenai Syi’ah, yang pada gilirannya dapat memperkaya wawasan kita sebagai seorang Muslim.

II. Pembahasan
1. Pengertian Syi’ah
a. Syi’ah adalah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. Dari segi bahasa, kata Syi’ah berarti pengikut, atau kelompok atau golongan, seperti yang terdapat dalam surah al-Shâffât ayat 83 yang artinya: “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (Nuh).”[1]
b. Syi’ah secara harfiah berarti kelompok atau pengikut. Kata tersebut dimaksudkan untuk menunjuk para pengikut ‘Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin pertama ahlulbait. Ketokohan ‘Ali bin Abi Thalib dalam pandangan Syi’ah sejalan dengan isyarat-isyarat yang telah diberikan Nabi Muhammad sendiri, ketika dia (Nabi Muhammad—pen.) masih hidup.[2]
c. Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang berkeyakinan bahwa yang paling berhak menjadi imam umat Islam sepeninggal Nabi Muhammad saw ialah keluarga Nabi saw sendiri (Ahlulbait). Dalam hal ini, ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib (paman Nabi saw) dan ‘Ali bin Abi Thalib (saudara sepupu sekaligus menantu Nabi saw) beserta keturunannya.[3]
d. Perkataan Syi’ah secara harfiah berarti pengikut, partai, kelompok, atau dalam arti yang lebih umum “pendukung”. Sedangkan secara khusus, perkataan “Syi’ah” mengandung pengertian syî’atu ‘Aliyyîn, pengikut atau pendukung ‘Ali bin Abi Thalib.[4]
e. Kata Syi’ah menurut pengertian bahasa secara umum berarti kekasih, penolong, pengikut, dan lain-lainnya, yang mempunyai makna membela suatu ide atau membela seseorang, seperti kata hizb (partai) dalam pengertian yang modern. Kata Syi’ah digunakan untuk menjuluki sekelompok umat Islam yang mencintai ‘Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah secara khusus, dan sangat fanatik.[5]
f. Secara lingusitik, Syi’ah adalah pengikut. Seiring dengan bergulirnya masa, secara terminologis Syi’ah hanya dikhususkan untuk orang-orang yang meyakini bahwa hanya Rasulullah saww (shallallâhu ‘alayhi wa âlihi wa sallam—pen.) yang berhak menentukan penerus risalah Islam sepeninggalnya.[6]

2. Sejarah Syi’ah
Para penulis sejarah Islam berbeda pendapat mengenai awal mula lahirnya Syi’ah. Sebagian menganggap Syi’ah lahir langsung setelah wafatnya Nabi Muhammad saw, yaitu pada saat perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan Anshar di Balai Pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Pada saat itu muncul suara dari Bani Hasyim dan sejumlah kecil Muhajirin yang menuntut kekhalifahan bagi ‘Ali bin Abi Thalib.
Sebagian yang lain menganggap Syi’ah lahir pada masa akhir kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan atau pada masa awal kepemimpinan ‘Ali bin Abi Thalib.[7]
Pendapat yang paling populer adalah bahwa Syi’ah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihak pasukan Khalifah ‘Ali dengan pihak pemberontak Mu’awiyah bin Abu Sufyan di Shiffin, yang lazim disebut sebagai peristiwa tahkîm atau arbitrasi.[8] Akibat kegagalan itu, sejumlah pasukan ‘Ali memberontak terhadap kepemimpinannya dan keluar dari pasukan ‘Ali. Mereka ini disebut golongan Khawarij. Sebagian besar orang yang tetap setia terhadap khalifah disebut Syî’atu ‘Alî (pengikut ‘Ali).
Pendirian kalangan Syi’ah bahwa ‘Ali bin Abi Thalib adalah imam atau khalifah yang seharusnya berkuasa setelah wafatnya Nabi Muhammad telah tumbuh sejak Nabi Muhammad masih hidup, dalam arti bahwa Nabi Muhammad sendirilah yang menetapkannya. Dengan demikian, menurut Syi’ah, inti dari ajaran Syi’ah itu sendiri telah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw.[9]
Namun demikian, terlepas dari semua pendapat tersebut, yang jelas adalah bahwa Syi’ah baru muncul ke permukaan setelah dalam kemelut antara pasukan Mu’awiyah terjadi pula kemelut antara sesama pasukan ‘Ali. Di antara pasukan ‘Ali pun terjadi pertentangan antara yang tetap setia dan yang membangkang.[10]

3. Tokoh-tokoh Syi’ah
Dalam pertimbangan Syi’ah, selain terdapat tokoh-tokoh populer seperti ‘Ali bin Abi Thalib, Hasan bin ‘Ali, Husain bin ‘Ali, terdapat pula dua tokoh Ahlulbait yang mempunyai pengaruh dan andil yang besar dalam pengembangan paham Syi’ah, yaitu Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin dan Ja’far al-Shadiq. Kedua tokoh ini dikenal sebagai orang-orang besar pada zamannya. Pemikiran Ja’far al-Shadiq bahkan dianggap sebagai cikal bakal ilmu fiqh dan ushul fiqh, karena keempat tokoh utama fiqh Islam, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hanbal, secara langsung atau tidak langsung pernah menimba ilmu darinya. Oleh karena itu, tidak heran bila kemudian Syaikh Mahmud Syaltut, mantan Rektor Universitas al-Azhar, Mesir, mengeluarkan fatwa yang kontroversial di kalangan pengikut Sunnah (Ahlussunnah—pen.). Mahmud Syaltut memfatwakan bolehnya setiap orang menganut fiqh Zaidi atau fiqh Ja’fari Itsna ‘Asyariyah.[11]
Adapun Zaid bin ‘Ali bin Husain Zainal ‘Abidin terkenal ahli di bidang tafsir dan fiqh. Pada usia yang relatif muda, Zaid bin ‘Ali telah dikenal sebagai salah seorang tokoh Ahlulbait yang menonjol. Salah satu karya yang ia hasilkan adalah kitab al-Majmû’ (Himpunan/Kumpulan) dalam bidang fiqh. Juga karya lainnya mengenai tafsir, fiqh, imamah, dan haji.[12]
Selain dua tokoh di atas, terdapat pula beberapa tokoh Syi’ah, di antaranya:
a. Nashr bin Muhazim
b. Ahmad bin Muhammad bin ‘Isa al-Asy’ari
c. Ahmad bin Abi ‘Abdillah al-Barqi
d. Ibrahim bin Hilal al-Tsaqafi
e. Muhammad bin Hasan bin Furukh al-Shaffar
f. Muhammad bin Mas’ud al-‘Ayasyi al-Samarqandi
g. Ali bin Babawaeh al-Qomi
h. Syaikhul Masyayikh, Muhammad al-Kulaini
i. Ibn ‘Aqil al-‘Ummani
j. Muhammad bin Hamam al-Iskafi
k. Muhammad bin ‘Umar al-Kasyi
l. Ibn Qawlawaeh al-Qomi[13]
m. Ayatullah Ruhullah Khomeini
n. Al-‘Allamah Sayyid Muhammad Husain al-Thabathaba’i
o. Sayyid Husseyn Fadhlullah
p. Murtadha Muthahhari
q. ‘Ali Syari’ati
r. Jalaluddin Rakhmat[14]
s. Hasan Abu Ammar[15]

4. Ajaran-ajaran Syi’ah
A. Ahlulbait. Secara harfiah ahlulbait berarti keluarga atau kerabat dekat. Dalam sejarah Islam, istilah itu secara khusus dimaksudkan kepada keluarga atau kerabat Nabi Muhammad saw. Ada tiga bentuk pengertian Ahlulbait. Pertama, mencakup istri-istri Nabi Muhammad saw dan seluruh Bani Hasyim. Kedua, hanya Bani Hasyim. Ketiga, terbatas hanya pada Nabi sendiri, ‘Ali, Fathimah, Hasan, Husain, dan imam-imam dari keturunan ‘Ali bin Abi Thalib. Dalam Syi’ah bentuk terakhirlah yang lebih populer.[16]
B. Al-Badâ’. Dari segi bahasa, badâ’ berarti tampak. Doktrin al-badâ’ adalah keyakinan bahwa Allah swt mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkan-Nya dengan peraturan atau keputusan baru. Menurut Syi’ah, perubahan keputusan Allah itu bukan karena Allah baru mengetahui suatu maslahat, yang sebelumnya tidak diketahui oleh-Nya (seperti yang sering dianggap oleh berbagai pihak). Dalam Syi’ah keyakinan semacam ini termasuk kufur. Imam Ja’far al-Shadiq menyatakan, “Barangsiapa yang mengatakan Allah swt baru mengetahui sesuatu yang tidak diketahui-Nya, dan karenanya Ia menyesal, maka orang itu bagi kami telah kafir kepada Allah swt.” Menurut Syi’ah, perubahan itu karena adanya maslahat tertentu yang menyebabkan Allah swt memutuskan suatu perkara sesuai dengan situasi dan kondisi pada zamannya. Misalnya, keputusan Allah mengganti Isma’il as dengan domba, padahal sebelumnya Ia memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih Isma’il as.[17]
C. Asyura. Asyura berasal dari kata ‘asyarah, yang berarti sepuluh. Maksudnya adalah hari kesepuluh dalam bulan Muharram yang diperingati kaum Syi’ah sebagai hari berkabung umum untuk memperingati wafatnya Imam Husain bin ‘Ali dan keluarganya di tangan pasukan Yazid bin Mu’awiyah bin Abu Sufyan pada tahun 61 H di Karbala, Irak. Pada upacara peringatan asyura tersebut, selain mengenang perjuangan Husain bin ‘Ali dalam menegakkan kebenaran, orang-orang Syi’ah juga membaca salawat bagi Nabi saw dan keluarganya, mengutuk pelaku pembunuhan terhadap Husain dan keluarganya, serta memperagakan berbagai aksi (seperti memukul-mukul dada dan mengusung-usung peti mayat) sebagai lambang kesedihan terhadap wafatnya Husain bin ‘Ali. Di Indonesia, upacara asyura juga dilakukan di berbagai daerah seperti di Bengkulu dan Padang Pariaman, Sumatera Barat, dalam bentuk arak-arakan tabut.[18]
D. Imamah (kepemimpinan). Imamah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi saw wafat harus ada pemimpin-pemimpin Islam yang melanjutkan misi atau risalah Nabi.[19] Atau, dalam pengertian Ali Syari’ati, adalah kepemimpinan progresif dan revolusioner yang bertentangan dengan rezim-rezim politik lainnya guna membimbing manusia serta membangun masyarakat di atas fondasi yang benar dan kuat, yang bakal mengarahkan menuju kesadaran, pertumbuhan, dan kemandirian dalam mengambil keputusan.[20] Dalam Syi’ah, kepemimpinan itu mencakup persoalan-persoalan keagamaan dan kemasyarakatan. Imam bagi mereka adalah pemimpin agama sekaligus pemimpin masyarakat. Pada umumnya, dalam Syi’ah, kecuali Syi’ah Zaidiyah, penentuan imam bukan berdasarkan kesepakatan atau pilihan umat, tetapi berdasarkan wasiat atau penunjukan oleh imam sebelumnya atau oleh Rasulullah langsung, yang lazim disebut nash.[21]
E. ‘Ishmah. Dari segi bahasa, ‘ishmah adalah bentuk mashdar dari kata ‘ashama yang berarti memelihara atau menjaga. ‘Ishmah ialah kepercayaan bahwa para imam itu, termasuk Nabi Muhammad, telah dijamin oleh Allah dari segala bentuk perbuatan salah atau lupa.[22] Ali Syari’ati mendefinisikan ‘ishmah sebagai prinsip yang menyatakan bahwa pemimpin suatu komunitas atau masyarakat—yakni, orang yang memegang kendali nasib di tangannya, orang yang diberi amanat kepemimpinan oleh orang banyak—mestilah bebas dari kejahatan dan kelemahan.[23]
F. Mahdawiyah. Berasal dari kata mahdi, yang berarti keyakinan akan datangnya seorang juru selamat pada akhir zaman yang akan menyelamatkan kehidupan manusia di muka bumi ini. Juru selamat itu disebut Imam Mahdi. Dalam Syi’ah, figur Imam Mahdi jelas sekali. Ia adalah salah seorang dari imam-imam yang mereka yakini. Syi’ah Itsna ‘Asyariyah, misalnya, memiliki keyakinan bahwa Muhammad bin Hasan al-Askari (Muhammad al-Muntazhar) adalah Imam Mahdi. Di samping itu, Imam Mahdi ini diyakini masih hidup sampai sekarang, hanya saja manusia biasa tidak dapat menjangkaunya, dan nanti di akhir zaman ia akan muncul kembali dengan membawa keadilan bagi seluruh masyarakat dunia.[24]
G. Marja’iyyah atau Wilâyah al-Faqîh. Kata marja’iyyah berasal dari kata marja’ yang artinya tempat kembalinya sesuatu. Sedangkan kata wilâyah al-faqîh terdiri dari dua kata: wilâyah berarti kekuasaan atau kepemimpinan; dan faqîh berarti ahli fiqh atau ahli hukum Islam. Wilâyah al-faqîh mempunyai arti kekuasaan atau kepemimpinan para fuqaha.[25]
H. Raj’ah. Kata raj’ah berasal dari kata raja’a yang artinya pulang atau kembali. Raj’ah adalah keyakinan akan dihidupkannya kembali sejumlah hamba Allah swt yang paling saleh dan sejumlah hamba Allah yang paling durhaka untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan Allah swt di muka bumi, bersamaan dengan munculnya Imam Mahdi.[26] Sementara Syaikh Abdul Mun’eim al-Nemr[27] mendefinisikan raj’ah sebagai suatu prinsip atau akidah Syi’ah, yang maksudnya ialah bahwa sebagian manusiaakan dihidupkan kembali setelah mati karena itulah kehendak dan hikmat Allah, setelah itu dimatikan kembali. Kemudian di hari kebangkitan kembali bersama makhluk lain seluruhnya. Tujuan dari prinsip Syi’ah seperti ini adalah untuk memenuhi selera dan keinginan memerintah. Lalu kemudian untuk membalas dendam kepada orang-orang yang merebut kepemimpinan ‘Ali.[28]
I. Taqiyah. Dari segi bahasa, taqiyah berasal dari kata taqiya atau ittaqâ yang artinya takut. Taqiyah adalah sikap berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa karena khawatir akan bahaya yang dapat menimpa dirinya. Dalam kehati-hatian ini terkandung sikap penyembunyian identitas dan ketidakterusterangan.[29] Perilaku taqiyah ini boleh dilakukan, bahkan hukumnya wajib dan merupakan salah satu dasar mazhab Syi’ah.[30]
J. Tawassul. Adalah memohon sesuatu kepada Allah dengan menyebut pribadi atau kedudukan seorang Nabi, imam atau bahkan seorang wali suaya doanya tersebut cepat dikabulkan Allah swt. Dalam Syi’ah, tawassul merupakan salah satu tradisi keagamaan yang sulit dipisahkan. Dapat dikatakan bahwa hampir setiap doa mereka selalu terselip unsur tawassul, tetapi biasanya tawassul dalam Syi’ah terbatas pada pribadi Nabi saw atau imam-imam dari Ahlulbait. Dalam doa-doa mereka selalu dijumpai ungkapan-ungkapan seperti “Yâ Fâthimah isyfa’î ‘indallâh” (wahai Fathimah, mohonkanlah syafaat bagiku kepada Allah), dsb.[31]
K. Tawallî dan tabarrî. Kata tawallî berasal dari kata tawallâ fulânan yang artinya mengangkat seseorang sebagai pemimpinnya. Adapun tabarrî berasal dari kata tabarra’a ‘an fulân yang artinya melepaskan diri atau menjauhkan diri dari seseorang. Kedua sikap ini dianut pemeluk-pemeluk Syi’ah berdasarkan beberapa ayat dan hadis yang mereka pahami sebagai perintah untuk tawallî kepada Ahlulbait dan tabarrî dari musuh-musuhnya. Misalnya, hadis Nabi mengenai ‘Ali bin Abi Thalib yang berbunyi: “Barangsiapa yang menganggap aku ini adalah pemimpinnya maka hendaklah ia menjadikan ‘Ali sebagai pemimpinnya. Ya Allah belalah orang yang membela Ali, binasakanlah orang yang menghina ‘Ali dan lindungilah orang yang melindungi ‘Ali.” (H.R. Ahmad bin Hanbal)[32]

5. Sekte-sekte Syi’ah
Para ahli umumnya membagi sekte Syi’ah ke dalam empat golongan besar, yaitu Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaum Ghulat. Golongan Imamiyah pecah menjadi beberapa golongan. Yang terbesar adalah golongan Itsna ‘Asyariyah atau Syi’ah Duabelas. Golongan lainnya adalah golongan Isma’iliyah.[33]
Selain itu terdapat juga pendapat lain. Misalnya dari al-Syahrastani. Beliau membagi Syi’ah ke dalam lima kelompok, yaitu Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, Ghulat (Syi’ah sesat), dan Isma’iliyah.[34] Sedangkan al-Asy’ari membagi Syi’ah menjadi tiga kelompok besar, yaitu: Syi’ah Ghaliyah, yang terbagi lagi menjadi 15 kelompok; Syi’ah Imamiyah (Rafidhah), yang terbagi menjadi 14 kelompok; dan Syi’ah Zaidiyah, yang terbagi menjadi 6 kelompok.[35]
Joesoef So’uyb dalam bukunya Pertumbuhan dan Perkembangan Aliran-aliran Sekta Syi’ah membagi Syi’ah ke dalam beberapa sekte, yaitu Sekte Imamiyah (yang kemudian pecah menjadi Imamiyyah Sittah dan Itsna ‘Asyariyah), Zaidiyah, Kaisaniyah, Isma’iliyah, Qaramithah, Hasyasyin, dan Fathimiyah.[36]
Sementara itu, Abdul Mun’im al-Hafni dalam Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, mengklasifikasikan Syi’ah secara rinci sebagai berikut:
A. Al-Ghaliyah: Bayaniyah, Janahiyah, Harbiyah, Mughiriyah, Manshuriyah, Khithabiyah, Mu’ammariyah, Bazighiyah, ‘Umairiyah, Mufadhaliyah, Hululiyah, Syar’iyah, Namiriyah, Saba’iyah, Mufawwidhah, Dzamiyah, Gharabiyah, Hilmaniyah, Muqanna’iyah, Halajiyah, Isma’iliyah.
B. Imamiyah: Qath’iyah, Kaisaniyah, Karbiyah, Rawandiyah, Abu Muslimiyah, Rizamiyah, Harbiyah, Bailaqiyah, Mughiriyah, Husainiyah, Kamiliyah, Muhammadiyah, Baqiriyah, Nawisiyah, Qaramithah, Mubarakiyah, Syamithiyah, ‘Ammariyah (Futhahiyah), Zirariyah (Taimiyah), Waqifiyah (Mamthurah-Musa’iyah-Mufadhdhaliyah), ‘Udzairah, Musawiyah, Hasyimiyah, Yunusiah, Setaniyah.
C. Zaidiyah: Jarudiyah, Sulaimaniyah, Shalihiyah, Batriyah, Na’imiyah, Ya’qubiyah.[37]

III. Penutup
Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa Syi’ah adalah salah satu aliran dalam Islam yang meyakini bahwa ‘Ali bin Abi Thalib dan keturunannya adalah imam-imam atau para pemimpin agama dan umat setelah Nabi Muhammad saw. Doktrin-doktrin yang diyakini para pengikut Syi’ah secara garis besar ada 11 macam, yaitu konsepsi tentang Ahlulbait, al-badâ’, asyura, imamah, ‘ishmah, mahdawiyah, marjâ’iyah atau wilâyah al-faqîh, raj’ah, taqiyah, tawassul, dan tawallî dan tabarrî yang dalam banyak hal memiliki perbedaan (pemahaman) dengan kalangan Sunni. Dalam Syi’ah terdapat berbagai macam sekte/kelompok yang memiliki perbedaan satu sama lain dalam memandang ajaran-ajaran seperti tertulis di atas.
Wallâhu a’lam bi al-shawâb

















IV. Daftar Pustaka
Abdullah, Taufik, ed. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam Jilid 3. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2003, cet. ke-3.
Aceh, Abubakar. Perbandingan Mazhab Syi’ah: Rasionalisme dalam Islam. Solo: Ramadhani, t.t.
Al-Hafni, Abdul Mun’im. Ensiklopedia Golongan, Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam, terj. Muchtarom. Jakarta: Grafindo Khazanah Ilmu, 2006, cet. ke-1.
Al-Nemr, Abdul Mun’eim. Sejarah dan Dokumen-dokumen Syi’ah. T.tp.: Yayasan Alumni Timur Tengah, 1988.
Ayoub, Mahmoud M. The Crisis of Muslim History: Akar-akar Krisis Politik dalam Sejarah Muslim, terj. Munir A. Mu’in. Bandung: Mizan Pustaka, 2004, cet. ke-1.
Dewan Redaksi Ensiklopedi Islam. Ensiklopedi Islam Jilid 5. Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997, cet. ke-4.
Karya, Soekama, dkk. Ensiklopedi Mini Sejarah dan Kebudayaan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1996, cet. ke-1.
Tim penulis IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ensiklopedi Islam Indonesia. Jakarta: Djambatan, 1992.
Sou’yb, Joesoef. Pertumbuhan dan Perkembangan Aliran-aliran Sekta Syi’ah. Jakarta: Pustaka Alhusna, 1982, cet. ke-1.
Syari’ati, Ali. Islam Mazhab Pemikiran dan Aksi, terj. M.S. Nasrulloh dan Afif Muhammad. Bandung: Mizan Pustaka, 1995, cet. ke-2.
Syirazi, Nashir Makarim. Inilah Aqidah Syi’ah, terj. Umar Shahab. Jakarta: Penerbit Al-Huda, 1423 H, cet. ke-2.
Zainuddin, A. Rahman dan M. Hamdan Basyar, ed. Syi’ah dan Politik di Indonesia: Sebuah Penelitian. Bandung: Mizan, 2000, cet. ke-1.
http://www.al-shia.com
http://www.ijabi.org

Implikasi


IMPLIKASI PERPINDAHAN PUSAT PEMERINTAHAN ISLAM

DARI MADINAH KE KUFAH OLEH SAYYIDINA ALI

Oleh : Moh. Subhan


Pendahuluan
Bebdara Islam muala mulai berkibar di Kufah ketika pasukan tentara Muslim yang dipimpin panglima Sa’ad bin Abi Waqqas berhasil mengalahkan kerajaan Romawi dan Bizantium dalam Perang Yarmuk pada 630 M.
Sejak abad ke-7 M, kota Kufah merupakan salah satu kota terpenting dalam sejarah peradaban Islam. Inilah kota bersejarah di Irak yang dibangun pada masa ekspansi pertama Islam ke luar Semenanjung Arab. Kufah pun tercatat sebagai salah satu dari empat kota terpenting bagi penganut aliran Syiah, selain Samarra, Karbala, dan Najaf.
Kufah sempat memegang peranan penting pada masa pemerintahan Khulafa ar-Rasyidin. Khalifah Ali bin Abi Thalib sempat memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah ke kota ini. Selain itu, Kufah pun sempat menjadi pusat gerakan ilmiah Islam yang telah melahirkan sejumlah ulama dan ilmuwan Muslim terkemuka.
Kota yang terletak 10 km di timur laut kota Najaf itu tergolong kota tua. Awalnya, wilayah itu didiami bangsa Mesopotamia. Ketika Kerajaan Sassanid berkuasa Kufah merupakan bagian dari Provinsi Suristan. Kufah ditaklukan umat Islam pada tahun 637 di era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab.
Bendera Islam mulai berkibar di Kufah ketika pasukan tentara Muslim yang dipimpin panglimanya Sa’d bin Abi Waqqas berhasil mengalahkan kerajaan Romawi dan Bizantium dalam Perang Yarmuk pada 636 M. Setahun kemudian, Irak jatuh ke tangan tentara Muslim. Kota pertama yang dibangun tentara Muslim adalah Kufah dan Basra.
Awalnya, Kufah hanyalah kota yang menjadi barak-barak militer Islam. Kota itu menjadi pilihan lantaran bangsa Arab lebih suka tinggal di padang pasir terbuka. Sebab, mereka sangat suka menggembala ternak. Wilayah yang berada di tepi barat Sungai Eufrat itu pun menjadi pilihan sebagai tempat bermukim.
Atas persetujuan Khalifah Umar bin Khattab, Sa’d pun memindahkan pusat kekuasaan Islam di Persia ke Kufah pada awal 638 M. Di kota itu, Sa’d yang termasuk salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang pertama masuk Islam akhirnya membangun kota Kufah. Gedung pemerintahan dan masjid dibangun dengan gaya arsitektur Persia.
Setelah Kufah tumbuh dan berkembang, para sahabat Rasul banyak hijrah dan bermukim di kota itu. Beberapa sahabat Rasulullah yang bermukim di Kufah itu antara lain; Ibnu Abu Waqqas, Abu Musa, Ali bin Abi Thalib, Abdullah ibnu Mas’ud, Salman, Ammar ibnu Yasir, serta Huzayfa ibnu Yaman. Dalam perjalanannya Kufah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu agama Islam.
Pada era itu, Kufah juga menjadi pusat penafsiran Alquran. Adalah Abdullah bin Mas’ud yang mengajarkan tafsir serta hadits kepada masyarakat di Kufah. Pada abad ke-9 M, di kota itu Yahya Ibnu Abd Al-Hamid Al-Himmani mengumpulkan hadits ke dalam sebuah musnad. Saat Kekhalifahan Umayyah berkuasa, Kufah bersaing dengan kota Damaskus yang menjadi pusat pemerintahan dinasti itu.
Setelah Dinasti Umayyah digulingkan Abbasiyah, Kufah tak menjadi pusat pemerintahan. Penguasa Abbasiyah lebih memilih membangun kota Baghdad. Alasannya, Kufah merupakan pusat kekuatan Syiah yang juga merupakan lawan politik Abbasiyah. Meski terpinggirkan secara politik, perkembangan aktivitas peradaban terus berkembang di kota itu.
Bahkan, sejarah mencatat Kufah merupakan kota yang terkenal sebagai pusat politik, peradaban dan pusat lahirnya doktrin Syiah. Kufah juga menjadi pusat gerakan ilmiah yang besar. Sederet ulama terlahir di Kufah antara lain; Syuraih bin Amir, Asy-Sya’bi, An-Nakhai, dan Sa’id bin Jubair. Gerakan ilmiah itu terus berkembang dan melahirkan Abu Hanifah bin Nu’man Al-Kufi atau Imam Hanafi.
Di kota itu berdiri sekolah Sunni yang terkemuka di Kufah yang didirikan Abu Hanifah. Selain itu, Imam Syiah seperti Muhammad Al-Baqir dan anaknya Jafar Al-Sadiq juga ikut memberi pengaruh di Kufah dengan hukum-hukum yang dibuatnya di Madinah.
Dalam khazanah peradaban Islam, Kufah juga terkenal dengan tulisan Arab indah yang disebut khatt kufi. Salah seorang sarjana Muslim yang mengembangkan tulisan indah kufi itu adalah Al-Qalqashandi. Khatt Kufi merupakan turunan dari empat tulisan Arab sebelum Islam yakni Al-Hiri, Al-Anbari, Al-Makki dan Al-Madani. Penamaan ‘kufic’ pertama kali diungkapkan Ibnu Al-Nadim dalam Kitab Al-Fihrist.
Pada dekade pertama Islam, Kufah begitu terkenal dengan dalam literasi dan politik. Pada masa kejayaannya, kota yang terletak 170 km di selatan Bagdad itu bahkan pernah menjadi pusat administrasi pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib pada tahun 656 M. Ali memindahkan ibu kota di Madinah ke Kufah lantara alasan politik.
Sejak itulah, kota itu menjadi basis kekuatan pendukung Ali dan keluarganya. Dukungan terhadap Ali itu kemudian melahirkan Syiah. Pergolakan politik pada masa pemerintahan Ali telah membuat Kufah menjadi semacam pusat militer. Kota itu menjadi saksi terjadinya Perang Jamal atau Perang Unta (656 M) antara Ali bin Abi Thalib dengan Siti Aisyah.
Kubu Aisyah menuntut agar pemerintahan yang dipimpin Ali segera mengadili pembunuh Khalifah Usman bin Affan. Setelah itu, Kufah juga menjadi saksi pergolakan politik antara Khalifah Ali dengan Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang kemudian memantik perang Siffin (657 M).
Di kota ini pula Khalifah Ali bin Abi Thalib tutup usia akibat ditikam oleh Ibnu Muljam dengan pedang. Jasad Ali bin Abi Thalib di makamkan di Najaf. Bagi penganut Syiah, makam itu begitu berarti. Kawasan pemakaman Ali amat luas dan diyakini merupakan perkuburan yang terluas di dunia.
Di masa Dinasti Umayyah, Kufah kerap menjadi sumber pemberontakan pengikut Syiah. Pada 680 M, putera Ali yang juga cucu Rasulullah SAW, Husein meninggal di Karbala. Menjelang keruntuhan Dinasti Umayyah, Kufah merupakan motor penggerak dakwah Dinasti Abbasiyah. Di Masjid Kufah , Khalifah pertama Abbasiyah dilantik pada 749 M.
Kini, Kufah berada dalam situasi yang tak menentu menyusul invasi dan penjajahan tentara AS di Irak. Kufah telah menjadi saksi sejarah perkembangan Islam.
Ilmuwan dan Ulama dari Kufah
Abu Musa Jabir bin Hayyan
Orang barat mengenalnya sebagai Geber. Abu Musa Jabir bin Hayyan terlahir di Kufah pada 750 M. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya itu didapatnya dari seorang guru bernama Barmaki Vizier pada era pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali.
Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap. Kontribusi lainnya yang penting antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi, dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.
Semasa hidupnya, Jabir telah menuliskan kitab-kitab penting bagi pengembangan ilmu kimia. Beberapa judul kitab yang ditulisnya antara lain; Kitab Al-Kimya, Kitab Al-Sab’een, Kitab Al Rahmah, Al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance.
Al-Kindi
Dia adalah salah satu dari 12 pemikir terbesar di Islam. Para sejarawan menobatkannya sebagai manusia terbaik pada zamannya. Ia menguasai beragam ilmu pengetahuan. Dunia pun mendapuknya sebagai filosof Arab yang paling tangguh.
Ilmuwan kelahiran Kufah, 185 H/801 M itu bernama lengkap Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy’ats bin Qais Al-Kindi. Ia berasal dari sebuah keluarga pejabat. Keluarganya berasal dari suku Kindah — salah satu suku Arab yang besar di Yaman — sebelum Islam datang. Nenek moyangnya kemudian hijrah ke Kufah.
Ayahnya bernama Ibnu As-Sabah. Sang ayah pernah menduduki jabatan Gubernur Kufah pada era kepemimpinan Al-Mahdi (775 M – 785 M) dan Harun Arrasyid (786 M – 809 M). Kakeknya, Asy’ats bin Qais, dikenal sebagah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Bila ditelusuri nasabnya, Al-Kindi merupakan keturunan Ya’rib bin Qathan, raja di wilayah Qindah.
Pendidikan dasar ditempuh Al-Kindi di tanah kelahirannya. Kemudian, dia melanjutkan dan menamatkan pendidikan di Baghdad. Sejak belia, dia sudah dikenal berotak encer. Tiga bahasa penting dikuasainya, yakni Yunani, Suryani, dan Arab. Sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang pada era itu.
Al-Kindi hidup di era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya yakni, Al-Amin (809 M – 813 M), Al-Ma’mun (813 M – 833 M), Al-Mu’tasim, Al-Wasiq (842 M – 847 M) dan Mutawakil (847 M – 861 M). Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan.
Imam Hanafi
Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bertepatan tahun 699 Masehi di kota Kufah. Nama lengkapnya dalah Nu’man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. Kemudian, dia termasyhur dengan gelar Imam Hanafi. Imam Abu Hanafi adalah seorang imam mazhab yang besar dalam dunia Islam. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain, yakni menegakkan Alquran dan sunnah Nabi SAW.
Ketika Imam Hanafi terlahir, pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan, dari keturunan Bani Umayyah kelima. Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan. Ia menguasai ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu kalam, dan juga ilmu hadits. Selain itu, ia juga ahli dalam bidang ilmu kesusasteraan dan hikmah.
Peristiwa Penting di Kufah
* Tahun 638 M: Kota Kufah didirikan Sa’d bin Abi Waqqas pada era kepemimpinan Umar bin Khattab. Kufah menjadi pusat pemerintahan Provinsi Irak.
* Tahun 655 M: Masyakat Muslim Kufah mendukung Ali bin Abi Thalib dalam perseteruan dengan Khalifah Utsman bin Affan.
* Tahun 656 M: Ali diangkat menjadi Khalifah. Dia memindahkan pusat pemerintahan dunia Islam dari Madinah ke Kufah.
* Tahun 661 M: Ali meninggal dunia karena dibunuh. Pemerintahan Umayyah berdiri dengan ibu kota di Damaskus. Namun, masyarakat Muslim Kufah tetap mendukung Ali.
* Tahun 749 M: Dinasti Abbasiyah mengambil alih Kufah dari Dinasti Umayyah. Namun, Abbasiyah menjadikan Baghdad sebagai pusat pemerintahan.
Kufah sempat memegang peranan penting pada masa pemerintahan Khulafa ar-Rasyidin. Khalifah Ali bin Abi Thalib sempat memindahkan ibu kota pemerintahan Islam dari Madinah ke kota ini. Selain itu, Kufah pun sempat menjadi pusat gerakan ilmiah Islam yang telah melahirkan sejumlah ulama dan ilmuwan Muslim terkemuka.
Kota yang terletak 10 km di timur laut kota Najaf itu tergolong kota tua. Awalnya, wilayah itu didiami bangsa Mesopotamia. Ketika Kerajaan Sassanid berkuasa Kufah merupakan bagian dari Provinsi Suristan. Kufah ditaklukan umat Islam pada tahun 637 di era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab.
Bendera Islam mulai berkibar di Kufah ketika pasukan tentara Muslim yang dipimpin panglimanya Sa'd bin Abi Waqqas berhasil mengalahkan kerajaan Romawi dan Bizantium dalam Perang Yarmuk pada 636 M. Setahun kemudian, Irak jatuh ke tangan tentara Muslim. Kota pertama yang dibangun tentara Muslim adalah Kufah dan Basra.
Awalnya, Kufah hanyalah kota yang menjadi barak-barak militer Islam. Kota itu menjadi pilihan lantaran bangsa Arab lebih suka tinggal di padang pasir terbuka. Sebab, mereka sangat suka menggembala ternak. Wilayah yang berada di tepi barat Sungai Eufrat itu pun menjadi pilihan sebagai tempat bermukim.
Atas persetujuan Khalifah Umar bin Khattab, Sa'd pun memindahkan pusat kekuasaan Islam di Persia ke Kufah pada awal 638 M. Di kota itu, Sa'd yang termasuk salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang pertama masuk Islam akhirnya membangun kota Kufah. Gedung pemerintahan dan masjid dibangun dengan gaya arsitektur Persia.
Setelah Kufah tumbuh dan berkembang, para sahabat Rasul banyak hijrah dan bermukim di kota itu. Beberapa sahabat Rasulullah yang bermukim di Kufah ituantara lain; Ibnu Abu Waqqas, Abu Musa, Ali bin Abi Thalib, Abdullah ibnu Mas'ud, Salman, Ammar ibnu Yasir, serta Huzayfa ibnu Yaman. Dalam perjalanannya Kufah menjadi pusat perkembangan ilmu pengetahuan dan ilmu agama Islam.
Pada era itu, Kufah juga menjadi pusat penafsiran Alquran. Adalah Abdullah bin Mas'ud yang mengajarkan tafsir serta hadits kepada masyarakat di Kufah. Pada abad ke-9 M, di kota itu Yahya Ibnu Abd Al-Hamid Al-Himmani mengumpulkan hadits ke dalam sebuah musnad. Saat Kekhalifahan Umayyah berkuasa, Kufah bersaing dengan kota Damaskus yang menjadi pusat pemerintahan dinasti itu.
Setelah Dinasti Umayyah digulingkan Abbasiyah, Kufah tak menjadi pusat pemerintahan. Penguasa Abbasiyah lebih memilih membangun kota Baghdad. Alasannya, Kufah merupakan pusat kekuatan Syiah yang juga merupakan lawan politik Abbasiyah. Meski terpinggirkan secara politik, perkembangan aktivitas peradaban terus berkembang di kota itu.
Bahkan, sejarah mencatat Kufah merupakan kota yang terkenal sebagai pusatpolitik, peradaban dan pusat lahirnya doktrin Syiah. Kufah juga menjadi pusat gerakan ilmiah yang besar. Sederet ulama terlahir di Kufah antara lain; Syuraih bin Amir, Asy-Sya'bi, An-Nakhai, dan Sa'id bin Jubair. Gerakan ilmiah itu terus berkembang dan melahirkan Abu Hanifah bin Nu'man Al-Kufi atau Imam Hanafi.
Di kota itu berdiri sekolah Sunni yang terkemuka di Kufah yang didirikan AbuHanifah. Selain itu, Imam Syiah seperti Muhammad Al-Baqir dan anaknya Jafar Al-Sadiq juga ikut memberi pengaruh di Kufah dengan hukum-hukum yang dibuatnya di Madinah.
Dalam khazanah peradaban Islam, Kufah juga terkenal dengan tulisan Arab indah yang disebut khatt kufi. Salah seorang sarjana Muslim yangmengembangkan tulisan indah kufi  itu adalah Al-Qalqashandi. Khatt Kufi merupakan turunan dari empat tulisan Arab sebelum Islam yakni Al-Hiri, Al-Anbari, Al-Makki dan Al-Madani. Penamaan 'kufic' pertama kali diungkapkan Ibnu Al-Nadim dalam Kitab Al-Fihrist.
Pada dekade pertama Islam, Kufah begitu terkenal dengan dalam literasi dan politik. Pada masa kejayaannya, kota yang terletak 170 km di selatan Bagdad itu bahkan pernah menjadi pusat administrasi pemerintahan Khalifah Ali bin Abi Thalib pada tahun 656 M. Ali memindahkan ibu kota di Madinah ke Kufah lantaran alasan politik.
Sejak itulah, kota itu menjadi basis kekuatan pendukung Ali dan keluarganya. Dukungan terhadap Ali itu kemudian melahirkan Syiah. Pergolakan politik pada masa pemerintahan Ali telah membuat Kufah menjadi semacam pusat militer. Kota itu menjadi saksi terjadinya Perang Jamal atau Perang Unta (656 M) antara Ali bin Abi Thalib dengan Siti Aisyah.
Kubu Aisyah menuntut agar pemerintahan yang dipimpin Ali segera mengadili pembunuh Khalifah Usman bin Affan. Setelah itu, Kufah juga menjadi saksi pergolakan politik antara Khalifah Ali dengan Mu'awiyah bin Abu Sufyan yang kemudian memantik perang Siffin (657 M).
Di kota ini pula Khalifah Ali bin Abi Thalib tutup usia akibat ditikam oleh Ibnu Muljam dengan pedang. Jasad Ali bin Abi Thalib di makamkan di Najaf. Bagi penganut Syiah, makam itu begitu berarti. Kawasan pemakaman Ali amat luas dan diyakini merupakan perkuburan yang terluas di dunia.
Di masa Dinasti Umayyah, Kufah kerap menjadi sumber pemberontakan pengikut Syiah. Pada 680 M, putera Ali yang juga cucu Rasulullah SAW, Husein meninggal di Karbala. Menjelang keruntuhan Dinasti Umayyah, Kufah merupakan motor penggerak dakwah Dinasti Abbasiyah. Di Masjid Kufah , Khalifah pertama Abbasiyah dilantik pada 749 M.
Kini, Kufah berada dalam situasi yang tak menentu menyusul invasi danpenjajahan tentara AS di Irak. Kufah telah menjadi saksi sejarahperkembangan Islam.
*Ilmuwan dan Ulama dari Kufah*
*Abu Musa Jabir bin Hayyan*
Orang barat mengenalnya sebagai Geber. Abu Musa Jabir bin Hayyan terlahir di Kufah pada 750 M. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia.Keahliannya itu didapatnya dari seorang guru bernama Barmaki Vizier pada era pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali.
 
Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap. Kontribusi lainnya yang penting antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi, dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.
 
Semasa hidupnya, Jabir telah menuliskan kitab-kitab penting bagi pengembangan ilmu kimia. Beberapa judul kitab yang ditulisnya antara lain; Kitab Al-Kimya, Kitab Al-Sab'een, Kitab Al Rahmah, Al Tajmi, Al Zilaq al Sharqi, Book of The Kingdom, Book of Eastern Mercury, dan Book of Balance.
 
*Al-Kindi*
Dia adalah salah satu dari 12 pemikir terbesar di Islam. Para sejarawan menobatkannya sebagai manusia terbaik pada zamannya. Ia menguasai beragam ilmu pengetahuan. Dunia pun mendapuknya sebagai filosof Arab yang paling tangguh.
 
Ilmuwan kelahiran Kufah, 185 H/801 M itu bernama lengkap Abu Yusuf Ya'qub bin Ishak bin Sabah bin Imran bin Ismail bin Muhammad bin Al-Asy'ats bin Qais Al-Kindi. Ia berasal dari sebuah keluarga pejabat. Keluarganya berasal dari suku Kindah  salah satu suku Arab yang besar di Yaman -- sebelum Islam datang. Nenek moyangnya kemudian hijrah ke Kufah.
 
Ayahnya bernama Ibnu As-Sabah. Sang ayah pernah menduduki jabatan Gubernur Kufah pada era kepemimpinan Al-Mahdi (775 M - 785 M) dan Harun Arrasyid (786 M - 809 M). Kakeknya, Asy'ats bin Qais, dikenal sebagah salah seorang sahabat Nabi Muhammad SAW. Bila ditelusuri nasabnya, Al-Kindi merupakan keturunan Ya'rib bin Qathan, raja di wilayah Qindah.
 
Pendidikan dasar ditempuh Al-Kindi di tanah kelahirannya. Kemudian, dia melanjutkan dan menamatkan pendidikan di Baghdad. Sejak belia, dia sudah dikenal berotak encer. Tiga bahasa penting dikuasainya, yakni Yunani, Suryani, dan Arab. Sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang pada era itu.
 
Al-Kindi hidup di era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Tak kurang dari lima periode khalifah dilaluinya yakni, Al-Amin (809 M - 813 M), Al-Ma'mun (813 M - 833 M), Al-Mu'tasim, Al-Wasiq (842 M - 847 M) dan Mutawakil (847 M - 861 M). Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya diangkat menjadi guru dan tabib kerajaan.
 
*Imam Hanafi*
Imam Hanafi dilahirkan pada tahun 80 Hijrah bertepatan tahun 699 Masehi di kota Kufah. Nama lengkapnya dalah Nu'man bin Tsabit bin Zautha bin Maha. Kemudian, dia termasyhur dengan gelar Imam Hanafi. Imam Abu Hanafi adalah seorang imam mazhab yang besar dalam dunia Islam. Dalam empat mazhab yang terkenal tersebut hanya Imam Hanafi yang bukan orang Arab. Beliau keturunan Persia atau disebut juga dengan bangsa Ajam. Pendirian beliau sama dengan pendirian imam yang lain, yakni menegakkan Alquran dan sunnah Nabi SAW.
 
Ketika Imam Hanafi terlahir, pemerintahan Islam berada di tangan Abdul Malik bin Marwan, dari keturunan Bani Umayyah kelima. Kepandaian Imam Hanafi tidak diragukan. Ia menguasai ilmu fiqih, ilmu tauhid, ilmu kalam, dan juga ilmu hadits. Selain itu, ia juga ahli dalam bidang ilmu kesusasteraan dan hikmah.
 
 
*Peristiwa Penting di Kufah*
* Tahun 638 M: Kota Kufah didirikan Sa'd bin Abi Waqqas pada era
kepemimpinan Umar bin Khattab. Kufah menjadi pusat pemerintahan Provinsi
Irak.
* Tahun 655 M: Masyakat Muslim Kufah mendukung Ali bin Abi Thalib dalam
perseteruan dengan Khalifah Utsman bin Affan.
* Tahun 656 M: Ali diangkat menjadi Khalifah. Dia memindahkan pusat
pemerintahan dunia Islam dari Madinah ke Kufah.
* Tahun 661 M: Ali meninggal dunia karena dibunuh. Pemerintahan Umayyah
berdiri dengan ibu kota di Damaskus. Namun, masyarakat Muslim Kufah tetap
mendukung Ali.
* Tahun 749 M: Dinasti Abbasiyah mengambil alih Kufah dari Dinasti Umayyah.
Namun, Abbasiyah menjadikan Baghdad sebagai pusat pemerintahan.(rpb)

Jumat, 23 Oktober 2009

sejarah Islam dalam soorotan


PROBLEMATIKA SEJARAH ISLAM
Disiarkan di Majalah I Keluaran September 2005
 By Moh. Subhan




Di dalam bahagian pertama tulisan saya (Majalah I Ogos 2005), kita telah sama-sama meneliti bagaimana Syiah memainkan peranan yang besar di dalam menabur racun kepalsuan terhadap kemurnian Sejarah Islam. Ini tertumpu kepada era al-Khulafa’ ar-Rashideen dan zaman awal Bani Umayyah yang menjadi era penentu kepada survival sirah perjalanan umat Islam secara keseluruhannya. Jika para Sahabat dapat ditumbangkan melalui sejarah, maka akan tumbanglah seluruh tubuh badan umat kerana generasi tersebutlah yang menjadi penyampai pertama risalah Islam dari Rasulullah SAW kepada sekalian umat.

Kita sama-sama menyedari bahawa Sejarah adalah bukti universal yang amat berkesan untuk mensabitkan sesuatu. Jati diri umat Islam dan keyakinan mereka untuk kembali bangkit selepas siri keruntuhan, berkait rapat dengan sejauh mana mereka berjaya menghayati Sejarah generasi terdahulu yang menyajikan pelajaran berharga. Di atas dasar inilah, Sejarah Islam terus menjadi sasaran musuh untuk dikelirukan supaya umat yang sedang bangun ini akan terus terpukul di belakangnya dengan pemahaman Sejarah yang salah dan mengecewakan.


KEPENTINGAN DOKUMENTASI SEJARAH
 Dokumen-dokumen yang menjadi sumber premier kepada Sejarah disebut di dalam Bahasa Arab sebagai watheeqah. Ia berasal dari kata umbi thiqah yang bermaksud kepercayaan. Dalam erti kata yang lain, kepercayaan terhadap sesuatu fakta Sejarah berkait rapat dengan hal ehwal yang bersangkutan dengan dokumen yang dirujuk. Muhammad Mahir Hamadah menukilkan kata, “tiada Sejarah tanpa dokumen” dan pada satu tahap, kata-kata itu memang benar.

Hal ini sememangnya telah diterima dengan baik oleh umat Islam zaman berzaman. Walaupun kita menghadapi pelbagai kesukaran untuk mendapatkan dokumen Sejarah bagi era awal Islam akibat kemusnahan yang dicetuskan oleh Perang Salib, Perang Tatar ke atas Baghdad dan sebagainya, sedikit sebanyak tradisi mendokumentasikan bahan rujukan Sejarah terus berkembang dan berwaris. Di zaman Bani Umayyah dan Abbasiyyah, pelbagai ‘Diwan’ ditulis sebagai dokumen pemerintah dan rujukan. Manakala di zaman kerajaan Uthmaniyyah, urusan-urusan kerajaan khususnya semasa peperangan, direkod oleh penulis rasmi kerajaan yang dikenali sebagai ‘vakanuvis’. Malah dari sudut pencapaian kemajuan sistem pentadbiran negara, umat Islam amat terkehadapan berbanding masyarakat yang lain. Kesimpulannya,  pelbagai dokumen berupa manuskrip, di samping buku-buku karangan ulama pelbagai zaman, tersedia untuk dirujuk dan dikaji ke arah mengeluarkan khazanah mutiara Sejarah Islam yang amat berharga itu.

Walau bagaimanapun, usaha membentangkan sejarah kepada masyarakat menghadapi beberapa cabaran yang wajar dihalusi untuk mengatasinya. Walaupun umat Islam agak beruntung kerana kesedaran dan usaha merakamkan peristiwa-peristiwa penting telah sedia wujud semenjak dari generasi pertama Islam, namun bahan-bahan tersebut tetap berhadapan dengan beberapa ciri yang menyulitkan pengkaji.


1. Catatan Yang Tidak Seimbang
  Era awal seperti Sejarah Bani Umayyah hanya dirakamkan oleh ahli sejarah seperti al-Imam at-Thabari kebanyakannya dari sudut siasah. Oleh itu kebanyakan catatan adalah berkisar tentang pemerintahan, silih pergantian pemimpin dan peristiwa yang berkaitan dengannya serta peperangan yang berlaku. Akan tetapi, pengkajian dari dimensi ketamadunan seperti ekonomi dan sosio budaya, tidak banyak dibantu oleh karya at-Thabari.

Kesan daripada ketidakseimbangan ini dapat dilihat daripada kecenderungan tanpa sedar sesetengah kita yang selalunya mendapat gambaran bahawa apabila disebut Sejarah Islam, perhatiannya terlalu banyak difokuskan kepada aspek siasah semata-mata. Oleh yang demikian, persembahan Islam yang dilakukan kepada masyarakat, khususnya kepada non-Muslim, dilakukan dalam bentuk yang kurang menonjolkan keindahan dan ‘manfaat’ yang relevan kepada paradigma pemikiran non-Muslim. Mesej terhadap hak non-Muslim banyak terfokus kepada jaminan keselamatan mereka dari gangguan dan ketidakadilan semata-mata. Mereka kurang dapat melihat bagaimanakah mereka boleh terus berniaga, hidup berkualiti dan maju di bawah sistem Islam kerana sentiasa menyebut tentang soal jaminan hak dan keselamatan. Ia memberikan gambaran secara reverse psychology seolah-olah hidup di bawah sistem Islam sentiasa berhadapan dengan ancaman keselamatan.


2. Taasub Kaum dan Bangsa di Dalam Dokumentasi
 Suatu perkara yang diketahui umum, bahawa era Abbasiyyah mengalami kesuburan sentimen anti Bani Umayyah. Ia turut memberikan kesan kepada bahan-bahan rujukan yang dihasilkan di zaman Abbasiyyah yang banyak bercorak prejudis terhadap Bani Umayyah. Misalnya, koleksi khutbah Bani Umayyah yang mencela Ahlul Bayt, banyak yang seni bahasanya menunjukkan bahawa khutbah itu berbahasa Arab era Abbasiyyah dan bukannya Umayyah. Hal ini memerlukan ketelitian para pengkaji agar tidak terdorong untuk menerima bulat-bulat segala yang dipaparkan.

Malah dari satu sudut yang lain, kajian terhadap Bani Umayyah hanya tertumpu kepada unsur-unsur yang terhad dan tidak menyeluruh lantaran halangan yang dibentuk oleh sifat prejudis itu tadi [Dirasah Wathaqiyyah li at-Tarikh al-Islami wa Masadiruhu min ‘Ahd Bani Umayyah Hatta al-Fath al-Uthmani li Suria wa Misr oleh Muhammad Mahir Hamadah]


3. Permasalahan Bahasa
 Perbedaan antara rujukan di satu zaman dengan zaman yang lain bukan hanya tertumpu kepada teknik merekod, malah bahasa yang digunakan juga mengalami perkembangan dan perubahan. Pengkajian sejarah era Seljuk memberikan keutamaan kepada dokumen berbahasa Parsi berbanding dengan yang berbahasa Arab. Hal ini perlu diambil kira oleh pengkaji supaya sebarang pertentangan fakta diselesaikan dengan mengambil kira aspek bahasa yang dominan di zaman tersebut.

Amat malang apabila pengkajian sejarah era Daulah Othmaniyyah tidak bermula dengan penguasaan bahasa sumber rujukan. Tidak ramai pengkaji, khususnya dari kalangan Muslim, yang mempelajari bahasa Turki dan bahasa Othmaniyyah (Osmanlıca) sebagai langkah pertama untuk mendalami sejarah era Othmaniyyah. Hal ini amat berbeza dengan pendekatan para orientalis, misalnya Bernard Lewis yang bukan sahaja memulakan pengkhususan beliau di bidang ini dengan menguasai bahasa Turki, malah berkahwin terus dengan wanita berbangsa Turki untuk mendalami bahasa dan kebudayaan mereka.

Kesannya dapat dilihat, apabila tokoh terbilang seperti Hamka, hanya berupaya merujuk buku-buku yang dikarang oleh orientalis Belanda untuk menghasilkan penulisan tentang era Othmaniyyah di dalam bukunya yang terkenal, Sejarah Umat Islam. Ia bukanlah suatu keaiban terhadap Hamka memandangkan kepada rujukan yang amat terhad pada masa itu. Namun perlulah kita mengambil pelajaran untuk tidak mensesiakan penyelesaian yang berada di depan mata hari ini.

Atas kesedaran betapa pentingnya penguasaan bahasa dan teknik pembacaan sumber rujukan seperti manuskrip dan kitab-kitab lama, Universiti Ankara di Turki telah menubuhkan Fakulti Bahasa dan Sejarah-Geografi atau lebih dikenali sebagai Dil ve Tarih-Coğrafya Fakültesi.

Sesungguhnya ketidakupayaan pengkaji sejarah menguasai bahasa sumber rujukan premier, mengundang kepada kecacatan yang besar di dalam pembentangan hasil kajian Sejarah. Lebih-lebih lagi, di Republic of Turkey Prime Ministry General Directorate of State Archives menjelaskan bahawa masih terhadap 150 juta keping dokumen berupa manuskrip dan surat-surat rasmi di sepanjang pemerintahan kerajaan Othmaniyyah yang masih belum disentuh untuk dikaji! Semestinya banyak lagi khazanah yang boleh digali, khususnya yang berkaitan dengan hubungan pemerintahan Daulah Othmaniyyah ke atas umat Islam di Kepulauan Melayu suatu ketika dahulu.


4. Referensi yang Terkurung
 Satu lagi faktor yang menjadi halangan kepada pengkaji ialah bagaimana banyak bahan rujukan Sejarah kita tersimpan di institusi-institusi yang amat rumit dan untuk diakses. Khususnya setelah kekalahan umat Islam semasa Perang Dunia Pertama, umat Islam telah ditimpa dengan suatu kebodohan yang merugikan apabila banyak manuskrip dan bahan Sejarah yang diberikan secara percuma kepada kuasa barat untuk dibawa ke muzium-muzium Eropah demi sedikit habuan yang tidak seberapa. Hari ini, umat Islam berhadapan dengan kesulitan apabila terpaksa pergi ke negara-negara Barat yang sesetengahnya mengenakan pelbagai polisi yang rumit, semata-mata untuk membolehkan kita membaca dan mengkaji hasil tulisan datuk nenek moyang kita sendiri.

Kita lihat, misalnya usaha untuk mendapatkan manuskrip dari Perpustakaan Suleymaniye di Istanbul, menuntut kita berhadapan dengan pelbagai karenah birokrasi. Lebih menyulitkan jika bahan tersebut berada di sesetengah negara Arab yang amat curiga dan skeptik dengan permohonan mendapatkan manuskrip di perpustakaan mereka.

Lebih mencabar lagi, peperangan yang berlaku di bandar seperti Baghdad sudah semestinya mengorbankan khazanah bahan rujukan sejarah Islam yang sama tragisnya dengan kematian penduduk bandar ‘berhantu’ itu.


5. Taasub Kaum dan Bangsa di Dalam Penafsiran Sejarah
 Permusuhan di antara masyarakat Abbasiyyah dengan Bani Umayyah tidak terhenti di zaman tersebut sahaja malah berlarutan hingga ke hari ini. Ia lebih ketara selepas kemusnahan jati diri umat Islam sewaku hancurnya Khilafah Othmaniyyah pada tahun 1924. Penyebaran fahaman nasionalisma perkauman telah mendorong kepada sikap tidak adil dan prejudis di dalam penafsiran Sejarah Islam.

Orang Arab melihat kuasa Othmaniyyah Turki sebagai kuasa penjajahan dan ia menjadi teras kepada penulisan ramai dari kalangan pengkaji Arab. Mereka melabelkan Sultan Abdul Hamid II sebagai ‘Sultan Merah’ yang kejam, zalim dan sebagainya. Senada dengan tuduhan Syiah terhadap peribadi seperti Muawiyah bin Abi Sufyan RA. Manakala bangsa Turki pula memandang orang Arab sebagai pengkhianat dan mereka menulis sejarah tentang gerakan Revolusi Arab dan lain-lain dengan bahasa kebencian yang melampaui realiti sebenar.


6. Sikap Terhadap Amanah Ilmu
 Sekali lagi masalah sikap diketengahkan sebagai punca permasalahan Sejarah Islam. Kecenderungan masyarakat kita untuk mendengar hanya berita yang dramatik, sensasi dan panas, mengundang kepada munculnya penulisan-penulisan yang cuba untuk bermain dengan akal dan emosi semata-mata. Ini mendorong kepada pengambilan bahan Sejarah yang boleh menarik pembaca tetapi tidak sedikitkan membantu kepada pembelajaran Sejarah.


Misalnya jika di zaman sahabat Rasulullah SAW, riwayat-riwayat sahih tentang Majlis Tahkim tidak dipedulikan, sebaliknya tertumpu kepada riwayat palsu yang menceritakan penipuan para sahabat, sikap gila kuasa dan sebagainya. Ini sedikit sebanyak berpunca daripada keadaan riwayat sahih yang tidak mempunyai unsur panas yang diperkatakan tadi.                                                                                                                                                                 


7. Kesilapan di Dalam Pendekatan Pembelajaran Sejarah

Pembelajaran Sejarah Islam banyak tertumpu kepada mengetahui apa yang berlaku pada satu-satu masa menurut kronologi peristiwa sahaja. Amat kurang usaha untuk mengambil manfaat daripada penafsiran Sejarah malah subjek Sejarah di sekolah hanya tertumpu kepada menjawab soalan berasaskan teknik PES iaitu menjawab soalan peperiksaan melalui skop politik, ekonomi dan sosial! Sedangkan suntikan roh sejarah amat kurang diusahakan.

Kita juga kurang mengenali aspek Fiqh at-Tarikh, iaitu ilmu berhubung dengan asas-asas kepada ilmu Sejarah, cara mengenali sumber rujukan dan permasalahan yang memerlukan perhatian, teknik menafsir bahan Sejarah dan lain. Sebagai analogi, kita kenal ilmu Fiqh tetapi mengabaikan Usul al-Fiqh. Justeru ramailah yang membuat kesilapan semasa mempelajari Sejarah.


8. Bidang Yang Ketinggalan dan Tidak Komersil

Walaupun Sejarah Islam merupakan bidang yang amat penting di dalam ‘membina manusia’ di dalam sesebuah masyarakat, rata-rata ia bukanlah menjadi subjek pilihan pelajar yang mahu menempah tempat di Institusi Pengkajian Tinggi. Hal ini berlawanan dengan kesedaran yang wujud di negara-negara sosialis di mana golongan cerdik dan bijak pandai dipilih untuk mendalami ilmu-ilmu yang membentuk manusia.

Semasa saya meluangkan masa sepanjang hari selama seminggu di Perpustakaan IRCICA di Yildiz Sarayi untuk menyiapkan beberapa penyelidikan, saya berapa kecewa kerana hampir-hampir tidak ada orang Islam yang datang mengkaji Sejarah dan Tamadun Islam di situ. Kebanyakan pengkaji adalah terdiri daripada pengkaji British, Perancis, Jerman dan Amerika Syarikat.

Oleh itu, kita berharap agar pengkajian Sejarah Islam di peringkat universiti dapat dipertingkatkan persembahannya. Para ahli akademik janganlah tenggelam di dalam dunia akademiknya sehingga tidak turun dengan ilmu dan kepakarannya kepada masyarakat. Manakala para pendakwah, penulis dan mereka yang bekerja di tengah-tengah masyarakat pula hendaklah bertanggungjawab mempersembahkan teladan Sejarah secara amanah dan bersandarkan kepada sumber yang sahih lagi muktamad.

Kelalaian di dalam memelihara imbangan antara kedua-dua ini akan hanya menjadikan bangsa kita iaitu bangsa Muslim, membina kediamannya di persada tamadun kemanusiaan dengan bangunan yang lebih pasir dan simen, menanti hari rebah ke bumi, lemah kepercayaan kepada Tuhan dan tiada keyakinan diri.

Minggu, 16 Agustus 2009

Dinasti Abbasiyah

DINASTI ABBASIYAH

(Kebangkitan Sunni, Perkembangan Filsafat, Sains dan Tasawuf)

By Moh. Subhan

A. PENDAHULUAN

Kekuasaan dinasti Abbasiyah diperoleh bukan sebagai akibat komplotan kaum istana, melainkan hasil koalisi dari beberapa kelompok yang berbeda (Persia, Turki dan Bani Abbas) yang dipimpin oleh Abdullah al Saffah ibn Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abbas.[1] Koalisi terjadi karena dilatar belakangi oleh persamaan nasib yang sama, yaitu sama-sama tertindas oleh penguasa dinasti Umayyah. Persamaan nasib inilah yang akhirnya memunculkan sebuah gerakan untuk menumbangkan kekuasaan dinasti Umayyah yang dianggapnya dlalim. Usaha mereka tidak sia-sia, sehingga pada tahun 750 M dinasti Umayyah dapat digulingkan. Sejak saat itulah, kekuasaan dinasti Umayyah digantikan oleh dinasti Abbasiyah. Kekuasaan dinasti Abbasiyah berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, mulai tahun 132 – 656 H / 750 – 1258 M. Selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.

Pada periode awal kekuasaan dinasti Abbasiyah, umat Islam mencapai masa keemasan dalam Peradaban, politik dan kebudayaan. Bahkan, periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan filsafat dan sains dalam Islam. Perkembangan sains dan filsafat pada periode ini tidak bisa lepas dari peran para khalifah yang sangat interes terhadap ilmu pengetahuan dan menghargai kepada para ilmuawan, sehingga muncul beberapa tempat yang dijadikan sebagai basis pengkajian ilmu pengetahuan, seperti kota Baghdad di Irak, kota Moru dan Nasabur di Persia, kota Mesir, kota Kairawan di Afrika, dsb.[2] Maka muncullah beberapa pakar ilmu; filsafat, teolog dan hukum. Begitu pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan pada waktu itu, sehingga dikenal sebagai kebangkitan terbesar pemikiran dan kebudayaan dalam Islam. Popularitas dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya pada era khalifah Harun al Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Makmun (813-833 M). Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. Transliterasi buku-buku asing yang dilakukan oleh khalifah Al Makmun, terutama buku-buku filsafat Yunani membawa pengaruh yang signifikan terhadap kebebasan berpikir umat Islam, terutama kelompok Mu’tazila. Namun, kebebasan berpikir yang bercorak rasional ini segera meredup sejak al Ghazali melontarkan kritik tajam terhadap pemikiran filsafat yang dianggap sudah kelewat batas. Al Ghazali tidak hanya menyerang pemikiran filsafat pada masanya, tetapi juga menghidupkan ajaran tasawuf.[3]

Berangkat dari uraian di atas, maka penulis ingin mengupas lebih jauh tentang Kebangkitan Sunni, Perkembangan Filsafat, Sains dan Tasawuf di era dinasti Abbasiyah dalam makalah ini. Dengan harapan mudah-mudahan kajian yang sederhana ini menambah cakrawala berpikir kita dan yang terpenting adalah bagaimana kita mampu berkiprah untuk izzul Islam wal muslimin.

B. PEMBAHASAN

1. Kebangkitan Sunni

Periode pertama dinasti Abbasiyah 132 – 232 H / 750 – 847 M) mencapai masa keemasan. Karena khalifah pada waktu itu adalah sosok yang kuat perhatian terhadap perkembangan agama dan ilmu pengetahuan. Para ulama dan pakar pengetahuan pada masa dinasti Umayyah yang kurang mendapat tempat, pada masa dinasti Abbasiyah ini mereka dihargai dan dimulyakan. Maka sangat wajar, jika pada waktu itu berkembang dengan cepat dan pesat berbagai disiplin ilmu; ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu kimia, fisika, dsb. Perkembangan dan kemajuan dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya pada era Harun al Rasyid dan puteranya, al Makmun.

Pada era kekuasaan Harun al Rasyid, rakyat benar-benar merasakan kemajuan di segala bidang, kebebasan berpikir benar-benar dijunjung tinggi. Tetapi kondisi seperti itu berubah, ketika al Makmun menjabat sebagai khalifah. Dia seorang khalifah yang sangat gandrung terhadap gaya pemikiran orang-orang Yunani yang bebas dan rasional. Mu’tazilah sebagai salah satu aliran dalam Islam yang banyak dipengaruhi oleh filsafat Yunani, terkenal dengan rasionalis. Oleh karena itulah maka ia menjadikan Mu’tazilah sebagai madzhab negara. Dan memaksa kepada rakyat agar mengikuti madzhab tersebut. Bahkan ia akan menghukum siapa saja yang menentang. Dan hal tersebut dibuktikan, dengan memenjarakan Ahmad bin Hambal yang dinyatakan telah menentang terhadap ajaran Mu’tazilah.

Tetapi setelah kekuasaan al Makmun usai dan digantikan oleh Al Mutawakkil, maka keadaan menjadi berubah. Di mana al Mutawakkil adalah sosok khalifah yang tidak senang terhadap aliran Mu’tazilah. Tindakan yang pertama kali dilakukan adalah membebaskan Ahmad bin Hambal dari penjara. Tindakan khalifah al Mutawakkil ini disambut hangat oleh kalangan Sunni, terutama kalangan Ahlu Hadits (al muhadistin) yang ingin memurnikan ajaran tauhid kembali kedalam bentuk kesederhanaannya tanpa pembahasan-pembahasan yang logis dan rasional.[4]

Sejalan dengan tindakan itu khalifah al Mutawakkil memulihkan kembali kedudukan aliran Sunni dan mengumumkan larangan terhadap aliran Mu’tazilah. Berlangsung demonstrasi-demontrasi di ibukota mendukung kebijakan tersebut, di bawah komando Ahmad bin Hambal.

Gerakan sunni yang berada di bawah pimpinan Ahmad bin Hambal (164 242 H / 780 -855 M) makin memperlihatkan pengaruhnya yang bertambah kuat terhadap khalifah al Mutawakkil. Gerakan sunni ini bertujuan “memurnikan” kembali ajaran islam agar terbebas dari campur aduk akal dan filsafat, seperti yang dianut oleh kaum salaf.

Tapi pengaruh yang begitu kuat tersebut sampai kelewat batas, ekstrim. Sehingga pada tahun 851 M keluar dekrit dari khalifah, yang memerintahkan menghancurkan dan perataan terhadap seluruh bangunan yang dimuliakan kaum Syi’ah. Termasuk makam Hasan dan Husain di Karbala. Dekrti ini membangkitkan reaksi dan ketegangan yang tiada terkira pada masa-masa berikutnya. Tetapi segala tantangan yang menghambat telah disingkirkan.[5]

2. Perkembangan Sain dan Filsafat

Gerakan penerjemahan secara besar-besaran ke dalam bahasa Arab terjadi pada masa dinasti abbasiyah. Gerakan ini terdiri dari dua fase. Pertama, dimulai pada awal berdirinya dinasti Abbasiyah, dan kedua pada era pemerintahan al makmun dan khalifah sesudahnya.

Khalifah Al manshur yang dikenal sangat menyukai filsafat, hukum dan astronomi, mendirikan kota Baghdad pada tahun 148 H / 765 M. Pada masa pemerintahannya penerjemahan dilakukan oleh para penerjemah, meliputi filsafat dan sains Yunani. Dan ia memberi imbalan yang besar kepada para penerjemahnya. Kemajuan yang sangat besar juga dicapai pada era khalifah Harun al rasyid (786 – 809). Pada era kekuasaanya banyak karya astronomi yang diterjemahkan kedalam bahasa Arab. Sekitar tahun 773 M, seorang pendatang dari India membawa naskah aritmatika dan astronomi ke baghdad. Naskah astronomi itu adalah Shiddanta, yang lebih dikenal dengan nama Sindhind. Buku yang diterkemahkan oleh ibrahim al farazi ini merangsang minat baru terhadap kajian astronomi di Persia. Beberapa saat seteleh itu Muhammad bin Musa ak Khawarizmi menggabungkan sistem astronomi Yunani dan India. Sejak saat itu, astronomi mendapat posisi yang penting dalam dunia keilmuan Arab.

Salah satu astronom Arab terkemuka dari generasi berikutnya adalah, Abu Ma’shar salah seorang murid al Kindi. Dalam sejarah peradabah Eropah ia dikenal dengan nama Abumazar. [6]

Selain buku Aritmatika, astronomi dan kedokteran diterjemahkan pula buku filsafat dan logika. Kegemaran pada karya filsafat ini sebenarnya baru nampak pada masa pemerintahan al Makmun (813-833 M).[7] Al Makmun merupakan sosok khalifah yang rasionalis yang berusaha menanamkan pandangan keagamaan kepada rakyatnya melalui mekanisme otoritas negara dan ia sangat cinta kepada ilmu pengetahuan. Hal tersebut dibuktikan, pada masa pemerintahannya penerjemahan buku-buku non Arab kedalam bahasa Arab, terutama buku-buku filsafat dan kedokteran terjadi secara besar-besaran.[8] Dan puncaknya, ketika didirikannya Bait al Hikmah (House of Wisdom) sebagai perpustakaan, observatorium dan pusat penerjemahan Pendirian Bait al Hikmah merupakan karya monumental Al Makmun yang dimaksudkan untuk memasukkan hal-hal positip dari kebudayaan Yunani ke dalam Islam. Bait al Hikmah merupakan pusat pengkajian dan penelitian berbagai macam ilmu sekaligus sebagai perpustakaan yang lengkap dengan team penerjemah. Team ini bertugas menerjemahkan teks-teks asli Yunani, Persia, Suryani dan bahasa lainnya ke dalam bahasa Arab. Para penerjemah yang terdiri dari kaum Nasrani, Yahudi dan Majusi (sabaean) digaji oleh khalifah dengan gaji yang tinggi. Pada masa inilah Baghdad sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.[9]

Buku-buku yang diterjemahkan pada saat itu terdiri dari berbagai macam bahasa; Persia, Latin, Suryani, Yunani, Ibrani, India, Qibti dan Nibti. Keragaman karya yang diterjemahkan inilah yang pada akhirnya membentuk corak tersendiri filsafat Islam. Orang yang dianggap berjasa besar pada waktu itu adalah, Abu zaid Hunain bin Ishak al Ibadi (w. 263 H / 876 M). Dia yang menerjemahkan buku karya Plato seperti Republik, Laws dan Timaeus dan menerjemahkan juga karya Aristoteles seperti Categories, Physic dan Magna Moralia. Disamping Abu Zaid, di lembaga Bait al Hikam masih banyak penerjemah-penerjemah lain, seperti Qusta bin Luqa seorang Kristen Suria, yang menerjemahkan karya filsafat, astronomi dan geometri, Abu Bisr Matta bin Yunus (w. 328 H/ 939 M) seorang dari kalangan Nestorian menerjemahkan karya Aristoteles; Analytica Posteriora dan komentar Alexander dari Aphrodisias tentang De Generatione et de Corruptione yang berbahasa Suria ke dalam bahasa Arab. Cukup banyak di antara buku-buku itu yang penting sekali artinya dari segi pengembangan filsafat di lingkungan dunia pemikiran Arab-Islam.[10] Maka tampillah abad ke-4 H adalah abad yang paling subur dalam usaha penerjemahan karya intelektual Yunani ke dalam bahasa Arab.

Dengan diterjemahkannya buku-buku karya filosof Yunani yang dikembangkan oleh Plotinus dan Agustine kedalam bahasa Arab, banyak melahirkan filosof-filosof Islam eperti; Ibnu Rusy (w. 1198 M), al Farabi (w. 950 M), al Biruni (w. 973-1048 M), Ibnu Sina (w. 1037 M) dan tokoh-tokoh yang lain. Lahirnya sejumlah filosof tadi, telah mengakibatkan lahirnya sejumlah pemikiran yang sangat luar biasa, bukan saja untuk jamannya, bahkan dikenal sampai sekarang. Ide-ide Plotanian tentang dasar asasi dari realita, yakni ide keesaan dari Socrates dan Plotinus telah banyak mempengaruhi doktrin keesaan Tuhan kaum Mu’tazilah (kelompok Islam Rasional). Tuhan didefinisikan sebagai dzat yang mengetahui terhadap hal-hal yang dapat diketahui, kehendak-Nya sebagai ketidak mungkinan keterpaksaan bagi wujudnya, aktvitas kreatif-Nya sebagai emanasi benda-benda dan hal-hal dari pada-Nya. Tuhan dengan demikian tidak mengetahui persoalan secara rinci. Hak-hak yang terperinci dapat dan harus dijelaskan dan dilakukan oleh manusia.[11]

C. Kebangkitan Sufi

Pengaruh penerjemahan buku-buku asing terutama filsafat Yunani membawa dampak yang sangat signifikan terhadap tata cara berpikir umat Islam. Sehingga lahirlah tokoh-tokoh Islam yang sangat gandrung dengan tata berpikir filsafat, seperti Ibnu Rusy (w. 1198 M), al Farabi (w. 950 M), al Biruni (w. 973-1048 M), Ibnu Sina (w. 1037 M), dan sebagainya. Cara berpikir dan cara pandang tokoh-tokoh tersebut dinilai oleh al Ghazali dianggap telah kelewat batas. Sehingga al ghazali mengkritik pemikiran filsafat yang tertuang dalam kitabnya “Tahafut al Falasifah” (Kekacauan Para Filosof). Kritik al Ghazali ini mendapat sanggahan dari filosof besar islam, Ibnu Rusyd, balam kitabnya “ Tahafut al tahafut (Kekacauan buku kekacauan). Tetapi nampaknya kritik al Ghazali jauh lebih populer dan berpengaruh daripada bantahan Ibnu rusyd.

Bahkan al Ghazali tidak hanya mengkritik dan menyerang filsafat pada masanya, tetapi juga menghidupkan ajaran tasawuf dalam Islam. Sehingga ajaran ini berkembang pesat setelah al Ghazali. Di antara ajaran tasawuf adalah tawakkal, zuhud, sabar, dan sebagainya. Dalam tasawuf kehidupan ukhrawi jauh lebih diutamakan daripada kehidupan duniawi.

D. Kesimpulan

Dari uraian di atas dapat disimpulkan:

1. Dinasti Abbasiyah dibangun di atas koalisi dari elemen bangsa yang berbeda, dengan misi yang sama yaitu menumbangkan kekuasaan dinasti Umayyah, dan selama dinasti ini berkuasa, pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial dan budaya.

2. Puncak keemasan Dinasti Abbasiyah tercapai pada periode awal kekuasaan, banyak buku-buku karya Yunani, India, dsb. yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Dan hal ini membawa pengaruh terhadap perkembangan ilmu dan filsafat.

3. Penerjemahan buku-buku non Arab kedalam bahasa Arab terjadi sejak awal pemerintahan dinasti Abbasiyah dan mencapai puncaknya pada era kekuasaan al makmun.

4. Penerjemahan buku-buku filsafat Yunani membawa pengaruh yang signifikan terhadap cara berpikir umat islam saat itu (rasional), sehingga lahirlah beberapa filosof Islam seperti ibnu Rusyd, al Kindi. Tetapi di satu sisi hal ini dianggap telah merusak agama, maka terjadilah saling kritik antara para filosof dengan mereka yang tidak suka pada filsafat. (Ibnu Rusyd VS al Ghazali).

5. Akibat dari kebijakan khalifah al makmun yang menjadikan Mu’tazilah sebagai madzhab negara membawa reaksi keras dari ummat saat itu, sehingga pada era kekuasaan al mutawakkil aliran Mu’tazilah harus dilenyapkan.

DAFTAR PUSTAKA

Badri Yatim, SejarahbPeradaban islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. XII, 2000

Watt, W. Montgomery, The Influence of Islam on Medieval Europe, Endiburgh University Press, 1972

Joesoef Sou’yb, Sejarah daulah Abbasiyah II, Bulan Bintang, Jakarta, 1977

Nur Cholis Majid, Khazanah Intelektual islam , Jakarta, Bulan Bintang, 1994

Majid Fahry, Sejarah Filsafat Islam Sebuah Peta Kronologis, mizan, Bandung, 2002

Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu, Pustaka Bani Quraisy, Bandung, 2006

Syalabi, A, Sejarah Kebudayaan Islam, Pustaka Al Husna Baru, Jakarta, 2003

Syed Mahmudunnasir, islam dan konseopsinya, Rosyda, Bandung, 1988



[1] Badri Yatim, SejarahbPeradaban islam, Raja Grafindo Persada, Jakarta, cet. XII, hlm. 49

[2] Watt, W. Montgomery, The Influence of Islam on Medieval Europe, Endiburgh University Press, 1972, hlm. 124

[3] Badri Yatim, op.cit, hlm. 152

[4] Joesoef Sou’yb, Sejarah daulah Abbasiyah II, Bulan Bintang, Jakarta, 1977, hlm. 10

[5] Ibid, hlm. 14

[6] Syed Mahmudunnasir, islam dan konseopsinya, Rosyda, Bandung, hlm. 104

[7] Ibid, hlm. 52

[8] Nur Cholis Majid, Khazanah Intelektual islam , Jakarta, Bulan Bintang, 1994, hlm. 56- 57

[9] Watt, W. Montgomery, op. cit, hlm. 68

[10] Majid Fahry, Sejarah Filsafat Islam Sebuah Peta Kronologis, mizan, Bandung, 2002, hlm. 45

[11] Cecep Sumarna, Filsafat Ilmu, Pustaka Bani Quraisy, Bandung, 2006, hlm. 17